Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

03 Agustus 2012

Shalahuddin Tegar di Jalan ALLAH


Shalahuddin Al Ayubi adalah pemimpin yang fenomenal. Ia adalah negarawan dan panglima perang yang bukan hanya dikagumi oleh umat Islam, tetapi juga dikagumi oleh lawan-lawannya, para ksatria Templar, termasuk Richard the Lion Heart. Sedangkan Assasin adalah kelompok rahasia dari sekte syiah hasaniyah yang gemar melakukan pembunuhan rahasia. Bagaimana jika keduanya bertemu? Itu pernah terjadi pada tanggal ini 836 tahun yang lalu.

22 Mei 1176. Assasin kembali melakukan percobaan pembunuhan atas Shalahuddin Al Ayubi. Assasin saat itu bahkan sudah menjangkau Shalahuddin. Mereka menembus langsung kamar tidur Shalahuddin saat ia terlelap. Assasin melukai Shalahuddin di kepalanya dengan belati. Itulah senjata andalah Assasin; belati indah untuk membunuh musuhnya dengan "seni" sekaligus nanti dipakai bunuh diri jika "tugas suci" itu telah tertunai. Assasin tidak suka lari setelah berhasil membunuh sasarannya. Mereka lebih suka bunuh diri.


Namun saat itu Assasin kembali gagal membunuh Shalahuddin Al Ayyubi. “Shalahuddin saat itu mengenakan penyangga leher dari bahan kulit dan helm logam di bawah surbannya,” tulis sejarawan Islam Tamim Ansary dalam bukunya, Destiny Disrupted: A History of the World through Islamic Eyes.

Menjadi orang baik bukan berarti semua orang akan baik kepada kita. Menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana bukan berarti semua orang akan mendukung kita. Kisah percobaan pembunuhan terhadap Shalahuddin Al Ayubi yang dilakukan oleh Assasin mengingatkan kita.

Namun, Shalahuddin mengajari kita, bahwa seperti apapun bahaya mengancam, ia tak boleh menghalangi proyek kebajikan kita. Sehebat apapun rintangan menghadang, ia tak boleh menghentikan langkah kebaikan kita. Sebab kesudahan yang menanti orang-orang yang istiqamah dalam kebaikan adalah ridha Allah Azza wa Jalla. Sebab akhir yang menanti konsistensi kebajikan adalah surga. Bahkan di dunia, penyegeraan kabar gembira hampir selalu membersamai mereka; segera atau setelah ia tiada. Dan itu pula yang didapatkan Shalahuddin; ia dikenang dan dicintai oleh umat Islam, bahkan dikagumi orang nasrani. Sedangkan Assasin, mereka hancur 96 tahun kemudian dan dibenci hingga kini, bahkan oleh orang Syiah, di mana mereka menisbatkan diri.

Terkadang kita salah memaknai janji perlindungan Allah kepada orang beriman. Seperti firman-Nya pada surat Al Baqarah ayat 257: “Allah Pelindung orang-orang yang beriman” atau surat Muhammad ayat 11: “sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman.” Kita lalu berharap bahwa kita senantiasa dilindungi dari segala rintangan dan bahaya, kita menginginkan akan selalu kebal dari pembunuhan dan terluka. Jika ada yang menyabetkan pedang kepada kita, seketika ayunan pedang itu terhenti tepat satu cm dari kulit kita. Atau jika ada peluru yang datang ia akan terhenti tepat sebelum mengenai tubuh kita. Tidak. Perlindungan Allah tidak selalu bermakna seperti itu.

Bahkan, tiga dari empat khulafa'ur rasyidin meninggal dibunuh. Umar bin Khatab dibunuh oleh Abu Lu'lu'ah, seorang budak Majusi keturunan Yahudi. Utsman bin Affan dibunuh pemberontak yang terhasut oleh Abdullah bin Saba', tokoh Yahudi. Dan Ali bin Abu Thalib dibunuh Abdurrahman bin Muljam, seorang khawarij. Mereka semua syahid, dan perlindungan Allah kepada mereka bukanlah dalam bentuk mencegah mereka syahid. Bahkan syahid itulah perlindungan Allah. Itulah sebaik-baik akhir kehidupan orang beriman yang sepanjang hidupnya menorehkan kebaikan dan kebajikan.

“Syahid fi sabilillah al asma amanina,” Hasan Al Banna menjadikan kaidah itu sebagai salah satu kredo perjuangannya. Dan ia pun mendapati hal yang sama; syahid, oleh peluru-peluru durjana yang menembus dadanya.
Lanjut Cuy...

Daniel Streich, Pembenci Masjid yang Akhirnya Bersujud…



Daniel Streich, anggota Partai Rakyat Swiss (SVP) menjadi sosok terkenal. Bukan saja awalnya dia sangat menentang keras pembangunan masjid di negaranya, melainkan dirinya secara mengejutkan berpindah haluan menjadi seorang Muslim.

Situs islamicbulettin.com melaporkan Streich penganut kristen taat. Dia dibesarkan dengan ajaran Kristiani dan semasa kecil pernah bercita-cita menjadi pastur. Namun ketika remaja niatnya berubah. Ia mulai gemar berpolitik dan tanpa ragu terjun langsung menjadi anggota partai ternama di Swiss.



SVP bukan partai sembarangan. Di dalamnya terdiri dari cendekia, ilmuwan, pelajar, dan pegiat bukan dari kalangan Muslim. Partai ini menjadi penentang nomor wahid penyebaran Islam di Swiss. Dan Streich adalah sosok yang paling vokal menyerukan penutupan masjid di seantero Negeri Cokelat ini.

Streich mempropagandakan anti-Islam ke seluruh negaranya. Ia menaburkan benih-benih kemarahan dan cemoohan bagi umat Islam di Swiss. Ia merasa mimbar dan kubah masjid tidak cocok dengan budaya negara itu. Ia juga menuding Islam sebagai agama teroris, pembuat onar, dan kekerasan.

Dalam usahanya menyingkirkan Islam dari Swiss, lelaki ini malah mempelajari Al-Qur’an dan Islam. Ia berharap dengan memahami ajaran Nabi Muhammad itu, dia mampu meruntuhkan iman kaum Muslimin. Yang terjadi, ia malah terpesona dengan ajaran rahmatan lil ‘alamin ini.

Semakin jauh Streich belajar Islam, semakin tenggelam dia dalam keindahan ad-Din samawi itu. “Banyak perbedaan saya dapatkan ketika mempelajari Islam. Ajaran Islam memberikan saya jawaban logis atas pertanyaan hidup penting, dan tidak saya temukan di agama saya,” katanya.

Presiden Organisasi Konferensi Islam (OKI) Abdul Majid Aldai mengatakan, orang Eropa sebenarnya memiliki keinginan besar mengetahui Islam dan hubungan antara Islam dengan terorisme, sama halnya dengan Streich.

Dulu, Streich sering meluangkan waktu membaca Alkitab dan pergi ke gereja, tapi sekarang ia membaca Al-Qur’an dan melakukan shalat lima waktu setiap hari. Dia keluar dari SVP dan mengumumkan status Muslimnya. Streich bilang, dia telah menemukan kebenaran hidup dalam Islam yang tidak dapat ia temukan dalam ajaran/keyakinan sebelumnya.
Lanjut Cuy...

Carsten Peter, Fotografer Penantang Lava Pijar

Ketika gunung meletus dan memuntahkan lava pijar, gunung tersebut dalam kondisi siaga 1. Semua penghuni gunung yang berjarak radius 1 kilometer dari puncak gunung harus segera diungsikan di tempat yang aman.

Lahar, awan panas dan timbunan material yang memiliki suhu panas antara 700-1.200 derajat celcius sangat berbahaya bagi mahluk hidup.



Tidak demikian dengan pria ini, saat orang berbondong-bondong menjauhi letusan gunung, ia malah asyik mengatur diafragma, mencari angle yang tepat untuk mengambil muntahan lava serta bumbungan awan panas, semua dilakukan tepat disekitar kawah.

Carsten Peter, fotografer berusia 53 tahun ini telah melanglang buana khusus memotret tempat-tempat ekstrim, salah satunya gunung berapi. Tak jarang ia menghabiskan waktu beberapa bulan di satu tempat demi menghasilkan kesempurnaan gambar.


Saya mulai memotret gunung berapi, karena rasa penasaran pada kekuatan alam yang luar biasa, menyadari diri saya begitu kecil dibandingkan kebesaran alam.

Saat memotret lava, hawa panas sangat terasa seperti saya sedang berada di atas tungku. Meskipun telah mengenakan baju pelindung, saya hanya mempunyai waktu beberapa detik untuk mengambil gambar di atas kawah sebelum kembali menjauh.

Resiko selalu ada dan tak terduga, dimana tiba-tiba Anda tertimpa kerikil atau hampir tertimpa batu berukuran raksasa. Permukaan disekitar kawah pun tidak stabil dan rawan longsor, belum lagi gas beracun. Agar tidak menghirup gas beracun, saya harus akurat memperhatikan arah angin.

Carsten kini juga berprofesi sebagai kontributor tetap majalah National Geographic dan telah mendapatkan berbagai penghargaan karena hasil fotonya yang fenomenal. Berikut ini beberapa dari hasil karyanya.















Lanjut Cuy...

22 Juli 2012

15 Fakta Unik dan Mengagumkan Tentang Nabi Muhammad SAW

Muhammad bin Abdullāh adalah nabi dan (Rasul) yang terakhir. Menurut sirah (biografi) yang tercatat tentang Muhammad, beliau lahir 20 April 570/ 571, di Mekkah (Makkah) dan wafat pada 8 Juni 632 di Madinah pada usia 63 tahun.


Michael H. Hart dalam bukunya The 100 menilai Muhammad sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Menurut Hart, Muhammad adalah satu-satunya orang yang berhasil meraih keberhasilan luar biasa baik dalam hal spiritual maupun kemasyarakatan. Hart mencatat bahwa Muhammad mampu mengelola bangsa yang awalnya egoistis, barbar, terbelakang dan terpecah belah oleh sentimen kesukuan, menjadi bangsa yang maju dalam bidang ekonomi, kebudayaan dan kemiliteran dan bahkan sanggup mengalahkan pasukan Romawi yang saat itu merupakan kekuatan militer terdepan di dunia di dalam pertempuran.
Disamping prestasi dan jasa beliau yang begitu banyak, ada juga fakta unik tentang Tokoh terbesar yang pernah ada di bumi..
Berikut ini 15 fakta unik tentang tingkah laku dalam kehidupan Nabi Muhammad.


  1. Nabi Muhammad SAW tidak melepaskan tangannya saat berjabat sebelum mitranya melepaskan terlebih dahulu.
  2. Nabi Muhammad SAW tidak pernah mengulurkan kaki di hadapan sahabat-sahabatnya.
  3. Nabi Muhammad SAW menoleh dengan seluruh badannya, menunjuk dengan seluruh jarinya.
  4. Nabi Muhammad SAW kalau berbicara sesekali menggigit bibir tanda berpikir, menepuk telapak kiri dengan jari telunjuk.
  5. Cetusan yang paling buruk dalam percakapan Nabi Muhammad SAW: “Apa yang terjadi pada orang itu? Semoga dahinya berlumur lumpur.”
  6. Harta Nabi Muhammad SAW yang paling mewah adalah sepasang alas kaki berwarna kuning, hadiah dari Negus, penguasa Abissinia.
  7. Nabi Muhammad SAW tinggal di pondok kecil beratap jerami yang kamar-kamarnya dipisahkan oleh batang-batang pohon yang direkat dengan lumpur bercampur kapur.
  8. Nabi Muhammad SAW sendiri yang menyalakan api, mengepel lantai, memerah susu dan menjahit alas kakinya yang putus.
  9. Santapan Nabi Muhammad SAW yang paling mewah, meski jarang dinikmatinya, adalah madu, susu dan lengan kambing.
  10. Nabi Muhammad SAW gagah berani, namun memiliki senyum yang sangat memikat dan malu mempermalukan orang.
  11. Nabi Muhammad SAW menghimpun dalam dirinya 4 tipe manusia secara sempurna, pekerja, pemikir, pengabdi Alloh dan seniman.
  12. Nabi Muhammad SAW selalu memilih yang termudah, selama halal, bila berhadapan dengan pilihan.
  13. Senyumnya menyejukkan, dilukiskan sebagai butir salju di oase.
  14. Beliau tidak pernah sakit gigi. Beliau bersiwak tak kurang 10 kali sehari.
  15. Warna kulit beliau putih kemerah-merahan.

Patut dijadikan tauladan bagi seluruh umat manusia.
Lanjut Cuy...

21 Juli 2012

Kisah Seorang Tukang Sol Sepatu




Cuaca hari ini sangat sangat panas. Mbah Sarno terus mengayuh sepeda tuanya menyisir jalan perumahan Condong Catur demi menyambung hidup. Mbah Sarno sudah puluhan tahun berprofesi sebagai tukang sol sepatu keliling. Jika orang lain mungkin berfikir “Mau nonton apa saya malam ini?”, Mbah Sarno cuma bisa berfikir “saya bisa makan atau nggak malam ini?”

Di tengah cuaca panas seperti ini pun terasa sangat sulit baginya untuk mendapatkan pelanggan. Bagi Mbah Sarno, setiap hari adalah hari kerja. Dimana ada peluang untuk menghasilkan rupiah, disitu dia akan terus berusaha. Hebatnya, beliau adalah orang yang sangat jujur. Meskipun miskin, tak pernah sekalipun ia mengambil hak orang lain.

Jam 11, saat tiba di depan sebuah rumah mewah di ujung gang, diapun akhirnya mendapat pelanggan pertamanya hari ini. Seorang pemuda usia 20 tahunan, terlihat sangat terburu-buru.

Ketika Mbah Sarno menampal sepatunya yang bolong, ia terus menerus melihat jam. Karena pekerjaan ini sudah digelutinya bertahun-tahun, dalam waktu singkat pun ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya.

“Wah cepat sekali. Berapa pak?”

“5000 rupiah mas”

Sang pemuda pun mengeluarkan uang seratus ribuan dari dompetnya. Mbah Sarno jelas kaget dan tentu ia tidak punya uang kembalian sama sekali apalagi sang pemuda ini adalah pelanggan pertamanya hari ini.

“Wah mas gak ada uang pas ya?”

“Nggak ada pak, uang saya tinggal selembar ini, belum dipecah pak”

“Maaf Mas, saya nggak punya uang kembalian”

“Waduh repot juga kalo gitu. Ya sudah saya cari dulu sebentar pak ke warung depan”

“Udah mas nggak usah repot-repot. Mas bawa dulu saja. Saya perhatikan mas lagi buru-buru. Lain waktu saja mas kalau kita ketemu lagi.”

“Oh syukurlah kalo gitu. Ya sudah makasih ya pak.”

Jam demi jam berlalu dan tampaknya ini hari yang tidak menguntungkan bagi Mbah Sarno. Dia cuma mendapatkan 1 pelanggan dan itupun belum membayar. Ia terus menanamkan dalam hatinya, “Ikhlas. Insya Allah akan dapat gantinya.”

Waktu menunjukkan pukul 3 lebih ia pun menyempatkan diri shalat Ashar di masjid depan lapangan bola sekolah. Selesai shalat ia berdoa.

“Ya Allah, izinkan aku mencicipi secuil rezekimu hari ini. Hari ini aku akan terus berusaha, selebihnya adalah kehendakMu.”

Selesai berdoa panjang, ia pun bangkit untuk melanjutkan pekerjaannya.

Saat ia akan menuju sepedanya, ia kaget karena pemuda yang tadi siang menjadi pelanggannya telah menunggu di samping sepedanya.

“Wah kebetulan kita ketemu disini, Pak. Ini bayaran yang tadi siang pak.”

Kali ini pemuda tadi tetap mengeluarkan uang seratus ribuan. Tidak hanya selembar, tapi 5 lembar.

“Loh loh mas? Ini mas belum mecahin uang ya? Maaf mas saya masih belum punya kembalian. Ini juga kok 5 lembar mas. Ini nggak salah ngambil mas?”

“Sudah pak, terima saja. Kembaliannya, sudah saya terima tadi, pak. Hari ini saya tes wawancara. Telat 5 menit saja saya sudah gagal pak. Untung bapak membiarkan saya pergi dulu. Insya Allah minggu depan saya berangkat ke Prancis pak. Saya mohon doanya pak”

“Tapi ini terlalu banyak mas”

“Saya bayar sol sepatu cuma Rp 5000 pak. Sisanya untuk membayar kesuksesan saya hari ini dan keikhlasan bapak hari ini.”

Tuhan punya cara tersendiri dalam menolong hamba-hambaNya yang mau berusaha dalam kesulitannya. Dan kita tidak akan pernah tahu kapan pertolongan itu tiba.

Keikhlasan akan dibalas dengan keindahan.
Kesuksesan akan menyertai keikhlasan dan rasa syukur.
Lanjut Cuy...

20 Juli 2012

Ustad Jeffry: Ariel Itu Orang Cerdas

Jelang kebebasan Ariel 'Peterpan' pada 23 Juli mendatang, para teman dan sahabat ikut berbahagia. Salah satunya Ustad Jeffry Al-Buchori yang selama ini mendampingi Ariel, berharap sahabatnya itu kembali berkarya dan menjadi pribadi yang lebih baik.

"Ariel itu orang yang cerdas, sisi religiusnya ada di dalam, cuma belum ada yang menyalakan. Nah di pesantrennya dia kemarin itu, mampu membuatnya menyala-nyala dengan keimanannya," ujar Uje, sapaan akrab Jeffry Al-Buchori saat dihubungi melalui telepon.

Ia mendoakan agar Ariel bisa mengambil hikmah dari kesalahannya. Termasuk, lebih berhati-hati dan mampu menjalani hidupnya dengan tegar.

"Harapan saya sebagai seorang sahabat, ada hikmah yang membuat kita jauh lebih cerdas dan mampu menapaki jalan kehidupan ini, lebih hati-hati lagi," ujar Uje.

Ustad Jeffry juga menyarankan agar Ariel tetap berusaha kembali menapaki kariernya. Tapi, Ariel juga harus bisa memasrahkan semuanya.

"Perkara karier biar itu menjadi urusan Allah bukan urusan kita. Karena kita cuma punya prediksi-prediksi yang selalu banyak keliru, tapi Allah tidak bisa keliru. Karena Allah punya kehendak apa saja," ujarnya.
Lanjut Cuy...

19 Juli 2012

Ariel Dedikasikan Lagu Khusus untuk Napi

Jelang hari kebebasannya, Nazriel Irham alias Ariel telah berpamitan kepada seuluruh penduduk Rutan Kebon Waru, Bandung. Tak hanya itu, Ariel bahkan sempat mengukir kenangan manisnya bersama para napi dalam sebuah lagu yang akan dimasukkan dalam album baru Peterpan.

Lagu itu, kabarnya merupakan lagu khusus karya Ariel yang didedikasikan untuk para narapidana. Saat dikonfirmasi soal kabar itu, salah satu personel Peterpan, David membenarkannya. Peterpan bersama Ariel bahkan telah melakukan take vokal dengan sejumlah narapidana di Rutan Kebon Waru, Bandung beberapa waktu lalu.

"Benar itu lagu baru yang akan ada di album baru nanti. Take vocal kemarin dilakukan dan lagunya Ariel yang buat," papar David saat ditemui di Rutan Kebon Waru, Kamis 19 Juli 2012.

David menjelaskan, lagu baru yang diminta Ariel ini memang sengaja didekasikan untuk para narapidana. "Ini permintaan Ariel, sebagai dedikasi untuk para napi Kebon Waru agar tetap semangat dan tidak malu," katanya lagi. Tema lagunya sendiri lanjut David,  tentang kebangkitan manusia.
Lanjut Cuy...

14 Juli 2012

Uwais Al-Qarni, Menjadi Sebutan Penduduk Langit

Pada zaman Nabi Muhammad S.A.W, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan.

Kulitnya kemerah-merahan. Dagunya menempel di dada kerana selalu melihat pada tempat sujudnya. Tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya.

Ahli membaca al-Quran dan selalu menangis, pakaiannya hanya dua helai dan sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya digunakannya sebagai selendang. Tiada orang yang menghiraukan, tidak terkenal dalam kalangan manusia,namun sangat terkenal di antara penduduk langit.

Tatkala datangnya hari Kiamat, dan tatkala semua ahli ibadah diseru untuk memasuki Syurga, dia justeru dipanggil agar berhenti dahulu seketika dan disuruh memberi syafa'atnya.



Ternyata Allah memberi izin padanya untuk memberi syafa'at bagi sejumlah bilangan qabilah Robi'ah dan qabilah Mudhor, semua dimasukkan ke Syurga dan tiada seorang pun ketinggalan dengan izin-Nya.

Dia adalah 'Uwais al-Qarni' siapalah dia pada mata manusia...

Tidak banyak yang mengenalnya, apatah lagi mengambil tahu akan hidupnya. Banyak suara-suara yang mentertawakan dirinya, mengolok-olok dan mempermainkan hatinya.

Tidak kurang juga yang menuduhnya sebagai seorang yang membujuk, seorang pencuri serta berbagai macam umpatan demi umpatan, celaan demi celaan daripada manusia.

Suatu ketika, seorang fuqoha' negeri Kuffah, datang dan ingin duduk bersamanya. Orang itu memberinya dua helai pakaian sebagai hadiah. Namun, hadiah pakaian tadi tidak diterima lalu dikembalikan semula kepadanya. Uwais berkata:

"Aku khuatir, nanti orang akan menuduh aku, dari mana aku mendapatkan pakaian itu? Kalau tidak daripada membujuk pasti daripada mencuri."

Uwais telah lama menjadi yatim. Beliau tidak mempunyai sanak saudara, kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh tubuh badannya. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa.

Bagi menampung kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai pengembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup-cukup untuk menampung keperluan hariannya bersama ibunya. Apabila ada wang berlebihan, Uwais menggunakannya bagi membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan.

Kesibukannya sebagai pengembala dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya. Dia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.

Uwais al-Qarni telah memeluk Islam ketika seruan Nabi Muhammad S.A.W tiba ke negeri Yaman. Seruan Rasulullah telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tidak ada sekutu bagi-Nya.

Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya menarik hati Uwais. Apabila seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, kerana selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran.

Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad S.A.W secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbaharui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam.

Alangkah sedihnya hati Uwais apabila melihat setiap tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah bertamu dan bertemu dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang dia sendiri belum berkesempatan.

Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih. Namun apakan daya, dia tidak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah. Lebih dia beratkan adalah ibunya yang sedang sakit dan perlu dirawat. Siapa yang akan merawat ibunya sepanjang ketiadaannya nanti?

Diceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah S.A.W mendapat cedera dan giginya patah kerana dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Khabar ini sampai ke pengetahuan Uwais.

Dia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada Rasulullah, sekalipun ia belum pernah melihatnya.

Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tidak terbendung dan hasrat untuk bertemu tidak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, "Bilakah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dengan dekat?"

Bukankah dia mempunyai ibu yang sangat memerlukan perhatian daripadanya dan tidak sanggup meninggalkan ibunya sendiri. Hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa Rasulullah.

Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya. Dia meluahkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan untuk pergi menziarahi Nabi S.A.W di Madinah.

Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau amat faham hati nurani anaknya, Uwais dan berkata,

"Pergilah wahai anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Apabila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang."

Dengan rasa gembira dia berkemas untuk berangkat. Dia tidak lupa untuk menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama mana dia pergi.

Sesudah siap segala persediaan, Uwais mencium sang ibu. Maka berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak lebih kurang empat ratus kilometer dari Yaman.

Medan yang begitu panas dilaluinya. Dia tidak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari. Semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi S.A.W yang selama ini dirinduinya.

Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi S.A.W, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina 'Aisyah R.A sambil menjawab salam Uwais.

Segera sahaja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata baginda tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tidak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi S.A.W dari medan perang.

Bilakah beliau pulang? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman.

"Engkau harus lekas pulang."

Atas ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemahuannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi S.A.W.

Dia akhirnya dengan terpaksa memohon untuk pulang semula kepada sayyidatina 'Aisyah R.A ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi S.A.W dan melangkah pulang dengan hati yang pilu.

Sepulangnya dari medan perang, Nabi S.A.W langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad S.A.W menjelaskan bahawa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit dan sangat terkenal di langit.

Mendengar perkataan baginda Rasulullah S.A.W, sayyidatina 'Aisyah R.A dan para sahabatnya terpegun.

Menurut sayyidatina 'Aisyah R.A memang benar ada yang mencari Nabi S.A.W dan segera pulang kembali ke Yaman, kerana ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.

Rasulullah S.A.W bersabda: "Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya."

Sesudah itu Rasulullah S.A.W, memandang kepada sayyidina Ali K.W dan sayyidina Umar R.A dan bersabda:

"Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi."

Tahun terus berjalan, dan tidak lama kemudian Nabi S.A.W wafat, hinggalah sampai waktu khalifah Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq R.A telah digantikan dengan Khalifah Umar R.A.

Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi S.A.W tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali K.W untuk mencarinya bersama.

Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, mereka berdua selalu bertanya tentang Uwais al-Qarni, apakah ia turut bersama mereka. Di antara kafilah-kafilah itu ada yang merasa hairan, apakah sebenarnya yang terjadi sampai ia dicari oleh beliau berdua.

Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais al-Qarni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah.

Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar R.A dan sayyidina Ali K.W mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka.

Rombongan itu mengatakan bahawa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawapan itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qarni.

Sesampainya di khemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar R.A dan sayyidina Ali K.W memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan solat. Setelah mengakhiri solatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman.

Sewaktu berjabat tangan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk
membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais,
sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi S.A.W.

Memang benar! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut,

"Siapakah nama saudara?"

"Abdullah." Jawab Uwais.

Mendengar jawapan itu, kedua sahabat pun tertawa dan mengatakan,

"Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?"

Uwais kemudian berkata "Nama saya Uwais al-Qarni."

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia.
Itulah sebabnya, dia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan sayyidina Ali K.W. memohon agar Uwais berkenan mendoakan untuk mereka.

Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah,

"Sayalah yang harus meminta doa daripada kalian."

Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata,

"Kami datang ke sini untuk mohon doa dan istighfar daripada anda."

Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qarni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdoa dan membacakan istighfar.

Setelah itu Khalifah Umar R.A berjanji untuk menyumbangkan wang negara daripada Baitulmal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera sahaja Uwais menolak dengan halus dengan berkata,

"Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi."

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam dan tidak terdengar beritanya.

Namun, ada seorang lelaki pernah bertemu dan dibantu oleh Uwais. Ketika itu kami berada di atas kapal menuju ke tanah Arab bersama para pedagang. Tanpa disangka-sangka angin taufan berhembus dengan kencang.

Akibatnya, hempasan ombak menghentam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya.

Lelaki itu keluar daripada kapal dan melakukan solat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu.

"Wahai waliyullah, tolonglah kami!" Namun, lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi,

"Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!"

Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata,

"Apa yang terjadi?"

"Tidakkah engkau melihat bahawa kapal dihembus angin dan dihentam ombak?" Tanya kami.

"Dekatkanlah diri kalian pada Allah!" Katanya.

"Kami telah melakukannya."

"Keluarlah kalian daripada kapal dengan membaca Bismillahirrahmaanirrahiim!"

Kami pun keluar daripada kapal satu persatu dan berkumpul. Pada saat itu jumlah kami lima ratus lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami serta isinya tenggelam ke dasar laut.

Lalu orang itu berkata pada kami,

"Tidak apalah harta kalian menjadi korban, asalkan kalian semua selamat."

"Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan?" Tanya kami.

"Uwais al-Qorni." Jawabnya dengan singkat.

Kemudian kami berkata lagi kepadanya,

"Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir."

"Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membahagi-bahagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?" Tanyanya.

"Ya!" Jawab kami.

Orang itu pun melaksanakan solat dua rakaat di atas air, lalu berdoa. Setelah Uwais al-Qarni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membahagi-bahagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tiada satu pun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar khabar Uwais al-Qarni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebut untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafan, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafankannya.

Demikian juga ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke perkuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan,

"Ketika aku ikut menguruskan jenazahnya hingga aku pulang daripada menghantarkan jenazahnya, lalu aku ingin untuk kembali ke kubur tersebut untuk memberi tanda pada kuburnya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas di kuburnya."

(Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qarni pada masa pemerintahan sayyidina Umar R.A.)

Pemergian Uwais al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat menghairankan. Sedemikian banyaknya orang yang tidak kenal datang untuk mengurus jenazah dan pengebumiannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang.

Sejak dia dimandikan hingga jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang.

Mereka saling bertanya-tanya "Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tidak memiliki apa-apa? Kerjanya hanyalah sebagai penggembala?"

"Namun, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenali. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya."

Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa Uwais al-Qarni.

"Dialah Uwais al-Qarni, tidak terkenal di bumi tapi sangat terkenal di langit."
Lanjut Cuy...
Powered By Blogger
 

HoerY ParteY Copyright © 2011 | Template design by O Pregador | Powered by Blogger Templates